Karya Ilmiah

Thursday, February 9, 2023

Hadis Adab dan Panduan Bersyukur

 


Adab Petunjuk Mensyukuri Nikmat

بسم الله الرحمن الرحيم السلام عليكم ورحمةالله وبركاته. الحمدلله على نعمةالله صلاةوسلاما على نبي محمد سيد المرسلين امابعد.

            Sebagai hamba yang merindukan keridhoan Allah sudah menjadi keharusan bagi seluruh hamba untuk berikhtiar agar Allah sebagai Zat yang Maha Hak mencurahkan dan memberikan keridhoan-Nya kepada kita. Maka salah satu cara agar Allah Swt memberikan keridhoan-Nya dengan selalu bersyukur dengan apa yang Dia berikan baik dalam kebaikan menurut kita maupun keburukan. Rasulullah Saw sebagai penyampai risal ketuhanan memberikan kita kiat atau cara untuk bersyukur dalam Sabdanya.

            وعن أبى هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اُنظُرُوا أِلَى مَن هُوَ أَسفَلَ مِنكُم وَلَاتَنظُرُوا أِلَى مَن هُوَ فَوقَكُم فَهُوَ أَجدَرُ أَن لَاتَزدَرُوانِعمَةَ اللهِ عَلَيكُم (متفق عليه)

            Kosakata:

·         اُنظُرُوا     Lihatlah:

·         أَسفَلَ     Lebih Rendah :

·          فَوقَكُم    Lebih Tinggi (diatas Kalian):

·         أَجدَرُ      Lebih Wajar (Lebih Baik):

·         تَزدَرُوا      Rendah (Meremehkan):

Artinya: Dari Abu Hurairah R.a berkata: Rasulullah Saw Bersabda: “Lihatlah orang yang berada dibawahmu dan Janganlah melihat orang yang berada diatasmu karena hal itu lebih patut bagimu agar kamu sekalian tidak merendahkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu”. (H.R Muttafaqun’alaih)

Rasulullah Saw melalui hadis ini memberikan cara atau panduan kepada kita agar selalu bersyukur kepada nikmat Allah Swt.

1.       Selalu Melihat Kepada Orang yang lebih rendah dalam perkara dunia.

Kata أَسفَلَ  bermaksud melihat kepada yang lebih rendah dari sifat keduniaan seperti melihat kepada orang yang Allah uji dengan Sakit sehingga kita bersyukur dengan kesehatan yang kita miliki. Kemudian melihat kepada Orang yang Allah ciptakan dengan kekurangan seperti buta atau tunarunggu sehingga kita bersyukur Allah ciptakan kita dengan keadaan yang baik dan sempurna begitu pula kita melihat keadaan Ekonomi selalu melihatlah kepada orang yang lebih faqir atau terlilit hutang sehingga kita bersyukur dengan kecukupan rezeki dan Allah jauhkan dari belenggu hutang-piutang.

2.       Selalu jauhkan diri melihat orang yang lebih baik dalam perkara dunia.

Rasulullah secara jelas dan tegas melarang ummatnya iri  kepada saudara dalam hal keduniaan seperti kelebihan harta dan penciptaan diri. Misalnya saudara kita Allah lebih kayakan dari kita dan kita merasa kekayaan kita tidak pantas untuk disyukuri maka ketika kita memiliki pemikiran seperti ini segeralah mohon perlindungan Allah sehingga kita sadar bahwa banyak saudara kita yang lebih berkekurangang dari kita sehingga dengan demikian rasa syukur akan pemberian Allah timbul dalam diri dan saat itu ketentuan Allah kita terima dan secara tidak lansung kita sedang Allah ridho dengan rasa keridhoan kita kepada pemberian Allah. Sebagaimana Hadis yang diriwayatka Imam Muslim (Apabila kamu melihat kepada orang yang diberikan kelebihan atasnya berupa harta dan peciptaan maka hendaknya ia melihat kepada orang yang lebih rendah (kekurangan) darinya)(Subulussalam: hal.151).

Kita memahami bahwa ketika diri memandang rendah sesuatu yang ada pada diri pada saat itu kita telah mengingkari nikmat Allah dan berdampak kepada kurangnya rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan dan secara tidak sadar kita seakan berkata kepada Allah “wahai Allah Aku tidak terima atas keputusan dan ketetapanmu menjadikan aku lebih buruk dari selainku” maka saat itulah kita tidak ridho kepada Allah dan Allah tidak pula meridhoi kita.

Esensinya nikmat dunia tidakla semata kepada harta, jabatan dan bagusnya perangai tapi juga kepada kebersihan hati menerima ketentuan Allah sebagai penentu dan pengatur segala sesuatu dalam hidup dan kehidupan kita di dunia. Serta pahamilah bahwa nikmat terbesar dalam kehidupan dunia itu ketika engkau dapat pasrah dengan ketentuan Allah dan mampu mendapatkan Keridhoan Allah (صراط المستقيم)

 

والله أعلم.........

Wednesday, February 8, 2023

NIAT DALAM BINGKAI KEHIDUPAN

“NIAT DALAM BINGKAI KEHIDUPAN”

Zulfikar Adznan Wijaya, M.H.

 

Bismillahirahmanirrahim, Alhamdulillah sholatan dan salam kepada Nabi Muhammad SAW semoga dengan senantiasi syukur dan mengikuti perintah Allah dan Rasulullah kita diberikan Rahmat-Nya dan Syafaatnya di hari akhir nanti.

Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh Perbuatan ada niatnya dan seluruh perbuatan tergantung kepada apa yang diniatkan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berawal dari sabda Rasulullah diatas kita mengetahui bahwa Niat hal yang sangat urgen dalam segala perbuatan kita sehari-hari sebagaimana kita maklum dalam perkataan hadis diatas Rasulullah menegasakan kepada kita untuk melakukan segala perbuatan dengan niatan sebaik-baiknya karena niat seorang manusia terkhusus kepada muslim menjadikan amal kita bernilai dan bermanfaat untuk kehidupan di dunia maupun diakhirat.

Ulama mendefenisikan niat secara bahasa al-Maqsud (maksud), kita memahami bahwa maqsud bermakna tujuan yang ingin dituju ketika melakukan sesuatu hal dan berharap pekerjaan atau perbuatan yang  dilakukan mendapakan hasil atau tujuan yang di inginkan. Secara istilah niat adalah "القصد الشيءمقترنا بفعله" (Sesuatu maksud yang berhubungan dengan perbuatannya). Dari defenisi ini kita pasti memahami bahwa ketika kita melakukan sesuatu pasti maksud dan tujuan dari perbuatan tersebut telah kita pahami apa yang akan dan ingin kita raih dalam prosesnya.

Karena sangat urgennya niat dalam islam kita harus menanamkan dalam diri kita sebagai muslim terlebih hal ini menjadi acuan agar what we do menghasilkan sesuatu yang baik dihasil maupun ajrin berupa ganjaran pahala yang menghasilakan keridhoan diri kepada ketentuan Allah karena dalam keyakinan kita sebagai hamba dan Manusia beriman Allah menjadi eksistensi yang memiliki hak segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan dan keberlangsungan kita dalam Dunia dan akhirat.

Menilik pentingnya kajian Niat bagaimanakah kita harus menyikapi serta mengungkapkan niat kita dalam keseharian kita ?. kita sering mengatakan dan berargumen bahwa awali seluruh perbuatan dengan kata بسم الله" benarkah ini?. Banyak dari kalangan awam bahkan cendikia mengatakan awali seluruh perbuatan dengan kata tersebut salahkah? Tidak sepenuhnya salah dari perkataan ini tapi ketika kita merujuk kembali yang menjadi eksistensi niat adalah maksud atau tujuan si pembuat niat. Contoh kita ilustrasikan dalam keseharian kita berdialog:

            A:         Wahai B apakah maksud dan tujuan Anda kemari?

            B;         Aku Kesini “Bismillah”

Atau dalam dialog wawancara pekerjaan.

            HRD;    apakah yang niat Anda melamar di Perusahaan ini?

            Pelamar;            niat saya kesini “Bismillah (Dengan Menyebut Nama Allah)”

Kita sedikit melihat ilustrasi diatas dapat kita lihat kejangalan dalam dialog. Begitulah seumpanya Allah bertanya kepada hambanya apakah niatmu melakukan pekerjaan ini? Maka kita hanya menjawab “Bismillah”. Akan berbeda ketika sudah memahami eksistensi niat.

A;                     Wahai B apakah maksud dan tujuan Anda kemari?

B;                     Aku Kesini “Bismillah untuk menyampaikan hajatku bersilatuhmi kepadamu”

Kemudian,

            HRD;                Apakah yang niat Anda melamar di Perusahaan ini?

Pelamar;           Niat saya kesini “Bismillah saya melamar diperusahaan ini karena sesuai dengan klasifikasi dan pengalaman saya untuk berkerja di Perusahaan ini”

Maka kita dapat dengan jelas mendapatkan perbedaan yang sangat signifikan dari keduan contoh dialog diatas. Contoh pertama tidak menjelaskan maksud yang menjadi eksistensi dari niat. Sedangkan di contoh kedua menjelaskan secara jelas niat atau maksud dan tujuan.

Mari kita pahami niat yang selalu kita baca dalam kehidupan keseharian kita:

1.       Niat Makan

ALLAHUMMA BARIKLANA FIMA RAJAKTANA WA QINA AZABANNAR

Artinya: Ya Allah berkahilah apa yang telah Engkau rezekikan kepada kami dan peliharalah kami dari Azab Neraka.

Kita pahami makna dari niat ini kita bertujuan atau bermaksud meminta keberkahan dan perlindungan dari Neraka kepada Allah dari makan dan minuman yang kita hendak makan.

2.       Niat (doa) Tidur

BISMIKA ALLAHUMMA AHYA WA AMUT atau BISMIKA ALLAHUMMA AMUTU WA AHYA.

Artinya: Ya Allah dengan nama-Mu aku hidup dan aku Mati

Kita dapat mencerna maksud dan tujuan kita dalam melantunkan niat mau tidur karena yang dapat mematikan dan menghidupkan hanya Allah dari niat tersebuat kita berharap semoga Allah menghidupkan (membangunkan) kita setelah mati (tidur) kita.

Dari 2 contoh niat diatas kita pahami bahwa niat haruslah berkaitan dengan sesuatu yang kita kerjakan dan dalam melantunkan niat sudah seyogyanya kita meniatkan dengan niat yang baik dan pengharapan yang baik pula kepada yang Maksud yaitu Allah SWT.

Landasan berniat haruslah kuat dan memahami bahwa niat harus memilki nilai yang baik dan bertujuan untuk mendapatkan Ridho dan Cinta Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana Imam Ghazali dalam Kitab Ihya’nya berkata: “Dan untuk mendapatkan karunia yang belipat ganda (yang banyak) maka perbanyaklah niat-niat yang baik”. Sebagaimana Habib Aydrus bin Umar Al-habsyi R.A memberikan peringatan berkata dalam kitab Amniat : “Barang Siapa yang tidak memiliki niat yang baik maka meniru (mengantunggkan) kepada Ulama Terdahulu” dengan kata " نويت بهذا لعمل مانوى سيدنا الفقيه المقدم مثلا........" (aku berniat dengan perbuatan ini seperti apa yang diniatkan sayyidi al-faqih almuqadam) atau dengan nama ulama lain yang kita mengetahui luasnya amalnya dan ma’rifatnya atau melihat baiknya atas niat dalam satu pekerjaan.

Alhamdulillah.......

والله اعلم........